skip to Main Content

Daya saing lulusan

Selain dilakukan evaluasi secara internal, untuk mengetahui seberapa besar efektifitas & produktivitas pendidikan, termasuk bagaimana dampaknya terhadap daya saing lulusan di pasar tenaga kerja, FIKOM-UNINUS secara rutin melakukan studi pelacakan (tracer study). Uraian berikut merupakan bagian dari Laporan Tracer Study Program Studi Ilmu Komunikasi FIKOM-UNINUS tahun 2020-21, yang pelaksanaannyadilakukan oleh sebuah tim yang ditugaskan oleh pimpinan fakultas. Hasilnya kemudian disampaikan kepada pimpinan universitas dan Yayasan, dan secara khusus dikomunikasikan pada rapat dosen FIKOM-UNINUS. Masukan dan rekomendasi dari rapat dosen itu kemudian dibahas dan dielaborasi kembali oleh pimpinan fakultas, program studi dan dan tim untuk merumuskan rencana tindak-lanjutnya. Pada awalnya tracer study dilakukan secara pasif, yaitu ketika alumni berhubungan kembali dengan pihak fakultas (diantaranya ketika akan melegalisir ijasah atau keperluan lainnya), yang bersangkutan diwajibkan mengisi formulir tracer study. Namun hasilnya tidak memuaskan, sehingga kemudian formulir tracer study disimpan di (Link : Google Formulir) agar alumni dapat mengisinya secara on-line.

Model tracer study yang digunakan merupakan kombinasi model DIKTI plus Indotracer dengan beberapa modifikasi disesuaikan dengan karakteristik mahasiswa FIKOM-UNINUS sendiri. Model DIKTI terlalu sederhana dan sedikit menangkap indikator-indikator penting sehingga hasilnya hanya dapat mengungkapkan informasi level permukaan sehingga kurang lengkap untuk dijadikan rujukan kebijakan. Model Indotracer lebih lengkap namun indicator yang diajukannya lebih fit untuk diterapkan bagi PTN, sehingga tidak mengakomodasi karakteristik mahasiswa PTS pada umumnya, misalnya sangat jarang mahasiswa PTN yang kuliah sambil bekerja. Padahal faktor ini diduga sebagai salah satu alasan yang dapat menjelaskan mengapa mahasiswa PTS tidak dapat lulus tepat waktu atau bahkan berhenti kuliah karena harus berpindah tugas pekerjaan.

Secara garis besar, terdapat empat aspek penting yang ingin diungkapkan melalui studi pelacakan, yaitu: (1) pendidikan & pengalaman belajar; (2) proses pencarian kerja & transisi ke dunia kerja; (3) pekerjaan sekarang (terakhir), dan (4) kerkaitan pekerjaan sekarang dengan kompetensi lulusan. Aspek pendidikan & pengalaman belajar ditujukan untuk mengungkapkan bagaimana penilaian lulusan terhadap dimensi: focus pembelajaran, sarana pembelajaran, proses pembelajaran, dan pengalaman belajar selama menempuh studi di PS Ilmu Komunikasi FIKOM-UNINUS. Aspek ini sekaligus juga untuk memperoleh informasi mengenai persepsi atau penilaian partisipan (alumni evaluation) terhadap kinerja Prodi berdasarkan pengalaman mereka mengikuti perkuliahan.

Aspek proses pencarian kerja & transisi ke dunia kerja ditujukan untuk mengungkapkan bagaimana proses dan upaya yang dilakukan oleh lulusan untuk mencari pekerjaan untuk pertama kalinya. Aspek ini meliputi sembilan indicator yaitu: a) waktu memulai mencari pekerjaan; b) cara (saluran informasi yang digunakan) mencari pekerjaan; c) pertimbangan dalam memilih pekerjaan; d) upaya meningkatkan kompetensi setelah lulus; e) jenis pelatihan yang diikuti;  f) jumlah instansi yang dilamar; g) jumlah instansi yang merespon; h) jumlah instansi yang mengundang wawancara; dan i) waktu yang dibutuhkan untuk memperoleh pekerjaan pertama.

Aspek pekerjaan sekarang, diukur dengan tujuh indicator: a) status pekerjaan (bekerja atau tidak bekerja);  b) aktivitas pencarian pekerjaan; c) tempat kerja sekarang vs sebelumnya; d) tingkat atau ukuran (size) tempat kerja; e) bidang usaha/kegiatan pekerjaan sekarang; f) tugas pokok dalam pekerjaan sekarang; atau g) bidang usaha kewirausahaan yang sedang ditekuni.

Sedangkan aspek kerkaitan pekerjaan sekarang dan kompetensi, diukur dengan tiga indicator yaitu: a) kesesuaian bidang kerja dengan latar belakang studi; b) alasan memilih pekerjaan yang tidak/kurang sesuai dengan latar belakang studi, dan  c) compentency gap (diukur berdasarkan 26 kompetensi) antara yang pernah diperoleh di bangku kuliah dengan yang dibutuhkan di dunia kerja. Hasilnya merupakan masukkan bagi prodi untuk memperbaiki materi dan proses pembelajaran.

Kepedulian alumni untuk mengisi form tracer study dirasakan masih rendah, karena dari 38 lulusan (periode lulusan tahun 2016-2018) terkumpul hanya 28 alumni yang mengisinya. Hal ini diduga karena alumni kurang memahami apa tujuan keterlibatan mereka dalam tracer study, bersifat sukarela, dan yang lebih penting lagi apa manfaatnya bagi mereka. Setelah dilakukan data screening, ternyata hanya 21 orang (55%)  mahasiswa yang mengisi dengan benar dan layak untuk dilakukan analisis lebih lanjut.

Profil partisipan di atas mewakili kondisi mahasiswa FIKOM-UNINUS sebenarnya, tidak semua mahasiswa focus untuk mengikuti kuliah seperti di PTN misalnya, tetapi sebagian besar (76%) kuliah sambil bekerja atau berwiraswasta. Faktor ini diduga sebagai salah satu factor yang dapat menjelaskan mengapa mahasiswa tidak dapat menyelesaikan studi tepat waktu atau bahkan berhenti kuliah karena harus berpindah tugas pekerjaan. Selain itu, sebagian besar mahasiswa tampaknya benar-benar mengandalkan bekal kompetensi yang diperolehnya di kampus untuk memasuki dunia kerja kelak. Hal ini ditunjukkan oleh hanya sekira 67% mahasiswa yang berupaya meningkatkan kompetensinya di luar kampus, seperti mengikuti kursus dan pelatihan lainnya. Aktivitas keorganisasian (di dalam atau di luar kampus) yang seyogyanya dapat mendukung kompotensi lulusan, juga hanya sebagian kecil lulusan (33%) yang aktif mengikutinya. Ketiga kecenderungan di atas diduga terjadi karena diperlukan biaya yang besar untuk mengikuti/kursus, dan karena kesibukan mahasiswa di luar kegiatan perkuliahan.

Salah satu indicator yang ingin diungkapkan dari pelaksanaan tracer study adalah waktu yang dibutuhkan lulusan untuk memperoleh pekerjaan pertama setelah lulus, dan kesesuaian bidang kerja dengan latar belakang studi lulusan,  yaitu indicator yang disepakati oleh sebagian pakar menunjukkan daya saing lulusan. Makin cepat lulusan memperoleh pekerjaan, ditafsirkan makin tinggi daya saing lulusan. Begitu juga makin tinggi kesesuaian bidang kerja dengan latar belakang studi lulusan, diindikasikan makin tinggi daya saing lulusan. Tabel berikut menginformasikan bahwa daya saing lulusan Program Studi Ilmu Komunikasi FIKOM-UNINUS tergolong tinggi karena bila digunakan kriteria rata-rata, secara keseluruhan lulusan memerlukan waktu 5 bulan untuk memperoleh pekerjaan pertama tersebut. Dalam kondisi tingkat pengangguran yang masih tinggi yaitu 5.4% pada tahun 2018 (Wihardja & Cunningham, 2021), maka daya saing lulusan patut diapresiasi.

Bila menggunakan kriteria waktu tunggu di bawah enam bulan (WT < 6 bulan), teridentifikasi 14 lulusan (67%) yang memenuhinya. Dari jumlah itu tercatat 5 orang bahkan memperoleh pekerjaan dalam waktu 3 bulan atau kurang. Walaupun hanya 10%, adanya jumlah lulusan yang baru memperoleh pekerjaan lebih dari 18 bulan, tetap harus menjadi perhatian FIKOM-UNINUS, menelusuri factor penyebabnya dan kemudian mencarikan alternative pemecahannya.

Berikutnya bila diukur dengan kriteria kesesuaian bidang kerja dengan latar belakang studi lulusan, daya saing lulusan Program Studi Ilmu Komunikasi FIKOM-UNINUS juga tergolong tinggi. Teridentifikasi 11 lulusan (52%) bekerja sangat sesuai dengan bidang studi Ilmu Komunikasi. Dari jumlah itu, 3 orang diantaranya bekerja dalam bidang kehumasan, 4 orang dalam bidang komunikasi pemasaran dan 4 orang dalam bidang teknologi informasi & komunikasi.

Namun demikian ada juga lulusan (4 orang) yang tercatat bekerja kurang sesuai dengan bidang studi Ilmu Komunikasi. Teridentifikasi minimal terdapat tiga alasan utama mengapa alumni memilih pekerjaan yang tidak sesuai, yaitu: karena belum mendapat pekerjaan yang sesuai, karena pekerjaan tersebut memberikan jaminan dan penghasilannya besar, dan pada awal meniti karir pekerjaan apa pun harus diterima. Fakta ini mengisyaratkan pada pengelola program studi untuk mempertimbangkan merancang kurikulum yang dapat membekali lulusan dengan “kompetensi cadangan” untuk menyiapkan lulusan bila bekerja tidak sesuai dengan bidangnya. Kemudian alasan lulusan memilih pekerjaan yang tidak sesuai karena pekerjaan tersebut memberikan jaminan dan penghasilannya besar, tampaknya “kesesuaian bidang kerja” sebagai indicator “daya saing lulusan” harus dire-evaluasi.

Kinerja lulusan

Indicator lain yang ingin diungkapkan dari pelaksanaan tracer study adalah tingkat atau ukuran (size) tempat kerja lulusan, baik berdasarkan dimensi kewilayahan (local, nasional atau internasional) maupun menurut legalitasnya (berbadan hukum atau tidak). Walaupun masih bisa didiskusikan validitas dan reliabilitasnya, ukuran atau cakupan wilayah tempat kerja lulusan penting untuk diidentifikasi karena merupakan salah satu indicator kinerja lulusan. Makin besar cakupan wilayah tempat kerjanya, berarti menunjukkan makin tinggi kinerja lulusan.

Hasil penelusuran mengidentifikasi 12 orang lulusan (57%) yang bekerja pada instansi/perusahaan berskala nasional. Dari jumlah itu tercatat 4 orang bekerja di instansi pemerintahan/BUMN, dan 7 orang berkarir di perusahaan swasta nasional. Bila dikonfirmasi dengan laporan studi Bank Dunia terakhir yang bertajuk Pathways to Middle-Class Jobs in Indonesia (Wihardja & Cunningham, 2021), sekira 80% pekerja di Indonesia bekerja pada lower-class jobs level yang diantaranya dicirikan oleh kualitas pekerjaan yang rendah, tidak memerlukan keterampilan tinggi, dan gaji/upah yang rendah. Maksudnya, perlu dipertimbangkan ulang penggunaan indicator “ukuran perusahaan” tempat kerja sebagai alat ukur kinerja lulusan.

Back To Top